Seputarkotaku.com, BALIKPAPAN — Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, H. La Ode Nasir, SE menggelar kegiatan Penguatan Demokrasi Daerah (PDD) ke-12 dengan tema “Pasar dan Dunia Usaha”, Sabtu (20/11/2025).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Sekretariat LNC, Kelurahan Karang Rejo, Balikpapan Tengah ini menghadirkan dua narasumber, Noor Thoha dan Hendrik Jatmiko.
Acara tersebut juga dihadiri Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Hj. Iim Rahman, para pelaku usaha, Ketua RT di Kelurahan Sumber Rejo, serta warga yang antusias mengikuti jalannya diskusi.
Dalam sambutannya, La Ode Nasir menekankan bahwa penguatan demokrasi tidak hanya berbicara soal politik, tetapi juga terkait erat dengan sektor ekonomi, khususnya pasar dan dunia usaha sebagai penggerak perekonomian masyarakat.
“Demokrasi daerah harus tumbuh seiring dengan menguatnya kegiatan ekonomi masyarakat. Pasar dan dunia usaha adalah ruang interaksi yang memengaruhi kualitas kehidupan warga,” ujarnya.
La Ode menilai, ketika dunia usaha diperkuat di level daerah, partisipasi masyarakat dalam pembangunan akan semakin luas, dan pemerintah dapat menghasilkan kebijakan publik yang lebih responsif terhadap kebutuhan pelaku usaha kecil dan menengah.
Dalam pemaparannya, Hendrik Jatmiko menjelaskan bahwa pasar dan dunia usaha merupakan dua unsur yang saling berkelindan.
Pelaku usaha yang mampu memahami dinamika pasar serta cepat beradaptasi akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang.

Hendrik kemudian memaparkan konsep “4 Si” yang menurutnya menjadi kunci dalam menjalankan usaha saat ini
Yang pertama, Komunikasi, baik verbal maupun non-verbal, berperan besar dalam membangun hubungan dengan konsumen.
“Senyum, gestur tubuh, dan pilihan kata sangat memengaruhi interaksi dalam dunia usaha,” ujarnya.
Kedua, dunia usaha menuntut inovasi agar pelaku usaha tetap relevan dan mampu bersaing.
“Misalkan ibu punya usaha pisang goreng, harus bisa di inovasi dengan bentuk yang berbeda sehingga pembeli jadi tertarik,” katanya.
Ketiga adalah Digitisasi, dimana digitalisasi kini melekat pada aktivitas bisnis dan menjadi kebutuhan dasar.
“Dulu kalau mau beli baju harus ke toko. Sekarang dari rumah pun kita bisa pilih ukuran dan warna lewat ponsel,” jelasnya.
Keempat yakni Akutansi, Hendrik menekankan pentingnya kemampuan akuntansi dasar bagi pelaku usaha. Menurutnya, setiap pengusaha wajib mengetahui modal, biaya operasional, hingga harga jual yang layak.
Ia mencontohkan berbagai aplikasi akuntansi sederhana yang dapat membantu UMKM mencatat persediaan dan transaksi secara praktis.
“Empat hal ini menjadi kunci agar pelaku usaha bisa tetap eksis di tengah persaingan saat ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Noor Thoha menegaskan bahwa sikap optimis merupakan modal utama seorang pelaku usaha. Tanpa optimisme, usaha sebesar apa pun akan sulit berkembang.
“Kuncinya optimis. Kalau sudah pesimis, mau buka usaha apa pun akan sulit untuk berkembang,” ujarnya.(*)





