Harga Rumah Baru di Balikpapan Melandai, Properti Komersial Turun di Akhir 2025

Seputarkotaku.com, BALIKPAPAN – Perkembangan sektor properti di Kota Balikpapan menunjukkan tren yang beragam pada triwulan IV 2025.

Harga rumah baru tercatat masih tumbuh, namun mengalami perlambatan, sementara harga properti komersial justru mengalami penurunan secara tahunan.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dirilis Bank Indonesia Balikpapan, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) tercatat sebesar 106,52 atau tumbuh 0,43 persen (year on year/yoy).

Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mencapai 0,67 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan bahwa perlambatan kenaikan harga rumah terjadi pada seluruh tipe, baik besar, menengah, maupun kecil.

“Melambatnya kenaikan harga rumah ini dipengaruhi oleh permintaan masyarakat yang belum sepenuhnya kuat, seiring dengan sejumlah proyek strategis nasional yang memasuki tahap penyelesaian,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

Ia menambahkan, terbatasnya mobilitas pekerja yang berdomisili di Balikpapan, khususnya akibat proyek RDMP dan IKN tahap pertama yang mulai rampung, turut memengaruhi aktivitas pasar properti.

Meski demikian, para pengembang tetap optimistis dengan prospek pasar ke depan. Strategi penjualan pun difokuskan pada rumah tipe kecil dan menengah yang lebih terjangkau dan diminati konsumen.

Di sisi lain, volume penjualan rumah baru masih menunjukkan tren penurunan, meskipun tidak sedalam triwulan sebelumnya. Pada triwulan IV 2025, tercatat sebanyak 119 unit rumah terjual atau turun 42,79 persen (yoy).

Penurunan tersebut terutama terjadi pada rumah tipe kecil dan menengah secara triwulanan. Namun menariknya, penjualan rumah tipe besar justru mengalami lonjakan signifikan.

“Peningkatan penjualan rumah tipe besar menunjukkan adanya penguatan permintaan dari segmen menengah atas di Balikpapan,” kata Robi.

Dari sisi pembiayaan, mayoritas masyarakat masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan pangsa mencapai 78 persen. Sementara pembelian secara tunai bertahap dan tunai penuh masing-masing sebesar 13 persen dan 9 persen.

Penyaluran KPR di Balikpapan pada periode tersebut tercatat sebesar Rp4,97 triliun dengan pertumbuhan 4,16 persen (yoy). Kualitas kredit juga masih terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) di bawah 5 persen.

Namun demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi para pengembang, seperti kenaikan harga bahan bangunan, kendala perizinan, keterbatasan lahan, hingga faktor perpajakan.

Sementara itu, dari sektor properti komersial, Bank Indonesia mencatat adanya penurunan harga secara tahunan. Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) tercatat sebesar 105,86 atau turun 0,36 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya.

Penurunan ini terjadi pada hampir seluruh segmen, seperti perkantoran, hotel, dan apartemen, sementara sektor ritel cenderung stagnan. Kondisi ini dipengaruhi oleh terbatasnya permintaan, terutama pada sektor perhotelan akibat kebijakan efisiensi pemerintah.

“Permintaan hotel dan apartemen menurun seiring berkurangnya aktivitas pekerja dan kegiatan MICE, sehingga berdampak pada harga properti komersial,” jelas Robi.

Secara keseluruhan, perkembangan sektor properti di Balikpapan masih dipengaruhi oleh dinamika proyek strategis nasional dan mobilitas tenaga kerja. Meski saat ini mengalami tekanan, prospek ke depan dinilai tetap positif.

Bank Indonesia pun terus mendorong pemulihan sektor properti melalui berbagai kebijakan, termasuk insentif likuiditas makroprudensial untuk meningkatkan pembiayaan sektor perumahan.

“Ke depan, prospek sektor properti di Balikpapan masih cukup baik, didukung oleh berlanjutnya pembangunan IKN tahap kedua serta operasionalisasi industri hilirisasi yang akan mendorong permintaan,” tutup Robi Ariadi.(*)

Pos terkait