Seputarkotaku.com, Balikpapan – Wisata Penangkaran Buaya yang terletak di ujung Timur Kota Balikpapan atau tepatnya di Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur (Baltim), Kalimantan Timur (Kaltim) bisa menjadi salah satu alternatif lokasi wisata pilihan menghabiskan akhir pekan atau libur lebaran Idul Adha 1444 Hijriah bersama keluarga.
Ya..meskipun sempat tutup selama adanya pandemi covid-19. Wisata penangkaran buaya kini mulai kembali dinikmati warga, baik dari Balikpapan maupun dari luar Balikpapan.
Edi salah satu pekerja senior diarea penangkaran buaya, Senin (26/6/2023) menuturkan wisata penangkaran buaya merupakan milik perorangan yang bermukim di luar daerah.
Dikatakan Edi, wisata penangkaran buaya mulai dibuka pada tahun 1993 lalu. Dimana sebelumnya pada tahun 1987 area penangkaran buaya merupakan kebun buah Anggur.

“Tahun 87 awalnya saya diajak untuk menggarap lahan ini untuk dijadikan kebun anggur, hanya saja kebun anggur yang kami garap gagal panen, sehingga tepat ditahun 1990 pemiliknya berinisiatif membuka wisata penangkaran buaya,” akunya.
Masih Edi, wisata penangkaran buaya sempat mengalami kesulitan sejak adanya pandemi covid-19 yang menghantam dunia tanpa terkecuali kota Balikpapan, sehingga berdampak pada pemasukan.
“Waktu pandemi kami tutup, sama sekali tidak ada pengunjung. Dampaknya tidak memiliki pemasukan sama sekali, sedangkan buaya di penangkaran harus tetap dikasih makan,” kisahnya.
Ia menceritakan, meskipun tidak ada pemasukan buaya di penangkaran tetap diberikan makan secara rutin.
“Alhmdulillah saja, kita dibantu pengusaha ayam beku atau di peternakan. Kalau ayam beku itu kan batasnya hanya 3 bulan disimpan, kalau ada yang sudah mendekati 3 bulan itu, mereka menjual ke kami untuk pakan buaya dengan harga murah,” bebernya.
Pekerjaan di penangkaran buaya diceritakan Edi bukanlah perkara mudah, pasalnya ketika buaya yang sudah tumbuh menjadi besar harus dipindahkan ke lokasi yang lebih besar. Dan pemindahannya buayanya pun mengundang resiko.
“Kalau kita pindahkan buaya yang berukuran besar kita tidak bisa sendiri, harus dibantu sama beberapa orang,” ucapnya.
“Bukan mindahin buaya saja, kadang kalau kita mengambil telur buaya juga mengundang resiko. Jadi tidak mudah bekerja disini dan harus berhati-hati,” tambahnya.
Meskipun pekerjaannya sangat beresiko, Edi tetap merasa bersyukur dan mencintai pekerjaannya, ditambah lagi dengan usainya pandemi, jumlah pengunjung di wisata penangkaran buaya kembali meningkat.
“Kalau untuk keamanan, petugas kami rutin pagi dan sore melakukan pengecekan area sekitar penangkaran untuk mengantisipasi buaya yang lepas,” ungkapnya.
“Disini ada buaya yang berukuran besar dengan panjang hampir 6 meter. Bukan hanya buaya saja, disini ada Gajah yang biasa dinaiki oleh pengunjung,” pungkasnya.(*)





