Harga Rumah Naik, Penjualan Terjun Bebas di Balikpapan

Seputarkotaku.com, BALIKPAPAN – Pasar properti Balikpapan memasuki fase yang menarik pada awal 2026. Di satu sisi, harga rumah baru terus mengalami kenaikan, namun di sisi lain jumlah rumah yang berhasil terjual justru merosot tajam.

Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumen di tengah meningkatnya biaya kepemilikan hunian.

Bacaan Lainnya

Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 mencapai 107,67 atau tumbuh 1,44 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang hanya 0,43 persen.

Kenaikan harga terjadi pada seluruh tipe rumah, baik besar, menengah maupun kecil. Rumah tipe besar mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,93 persen (yoy), disusul tipe kecil sebesar 1,85 persen dan tipe menengah sebesar 0,38 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan bahwa kenaikan harga rumah dipengaruhi oleh langkah pengembang yang melakukan penyesuaian harga jual untuk mengimbangi meningkatnya harga bahan bangunan serta biaya tenaga kerja.

Namun, kenaikan harga tersebut ternyata tidak sejalan dengan daya serap pasar. Pada triwulan I 2026, hanya 72 unit rumah baru yang berhasil terjual, turun 55,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 162 unit.

Penurunan ini bahkan lebih dalam dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencatat kontraksi penjualan sebesar 42,79 persen.

Rumah tipe kecil menjadi segmen yang paling terdampak. Penjualannya turun dari 109 unit menjadi hanya 36 unit atau merosot hampir 67 persen. Sementara rumah tipe besar turun dari 32 unit menjadi 19 unit dan rumah tipe menengah turun dari 21 unit menjadi 17 unit.

Meski masih mendominasi pasar, pangsa rumah tipe kecil ikut menyusut dari 67 persen menjadi 50 persen. Sebaliknya, pangsa rumah tipe menengah meningkat menjadi 24 persen dan tipe besar naik menjadi 26 persen.

Menurut hasil survei, penurunan penjualan dipengaruhi beberapa faktor. Selain masyarakat yang lebih memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan Ramadan dan Idulfitri pada awal tahun, kenaikan harga rumah juga membuat sebagian calon pembeli memilih menunda keputusan membeli hunian.

Melemahnya penjualan turut berdampak pada aktivitas pembangunan rumah baru yang ikut melambat. Kendati demikian, para pengembang masih optimistis terhadap prospek pasar ke depan.

Strategi yang akan ditempuh antara lain memperbanyak pembangunan rumah tipe kecil dan menengah yang lebih terjangkau, memperkuat promosi pemasaran, serta menghadirkan inovasi desain untuk menarik minat konsumen.

Dari sisi pembiayaan, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam membeli rumah baru. Sebanyak 71 persen transaksi rumah baru pada triwulan I 2026 menggunakan fasilitas KPR. Meski demikian, angka tersebut menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 87,7 persen.

Sementara itu, pembelian secara tunai dan tunai bertahap masing-masing memiliki pangsa sebesar 15 persen dan 14 persen.

Bank Indonesia mencatat masih terdapat sejumlah tantangan yang membayangi sektor perumahan di Balikpapan. Mulai dari kenaikan harga material bangunan, kualitas kredit calon pembeli, persoalan perizinan, keterbatasan lahan pengembangan perumahan, tingginya kebutuhan hidup masyarakat, hingga kenaikan suku bunga KPR.

Berbeda dengan sektor perumahan, harga properti komersial di Balikpapan justru mengalami penurunan meski dengan tren yang semakin melandai.

Hasil Survei Perkembangan Properti Komersial (PPKom) menunjukkan Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) pada triwulan I 2026 berada di level 105,70 atau turun 0,10 persen secara tahunan. Penurunan ini lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkoreksi 0,36 persen.

Perbaikan terutama ditopang oleh sektor perhotelan. Harga properti hotel memang masih mengalami penurunan, namun hanya sebesar 3,63 persen, jauh lebih rendah dibandingkan kontraksi 9,95 persen pada triwulan sebelumnya.

Membaiknya kinerja sektor hotel tidak lepas dari tingginya mobilitas pekerja seiring operasional Kilang Pertamina Balikpapan, berlanjutnya pembangunan tahap II Ibu Kota Nusantara (IKN), serta meningkatnya kegiatan pemerintahan dan pertemuan bisnis atau MICE yang diselenggarakan di Balikpapan.

Sementara itu, segmen ritel dan perkantoran menunjukkan harga yang relatif stabil di tengah permintaan yang terus menguat.

Secara umum, perkembangan pasar properti Balikpapan masih ditopang oleh aktivitas ekonomi yang tumbuh positif. Operasional industri strategis, pembangunan IKN, hingga rencana hilirisasi industri di Kalimantan Timur diyakini akan menjadi motor penggerak permintaan properti ke depan.

“Prospek harga dan penjualan properti, baik residensial maupun komersial, masih cukup menjanjikan. Bank Indonesia juga terus memperkuat kebijakan makroprudensial, termasuk melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), guna mendorong pembiayaan sektor perumahan dan mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan,” ujarnya. (*)

Pos terkait