Seputarkotaku.com, BALIKPAPAN – Polemik rangkap jabatan Bendahara KONI Balikpapan, Malvin Ardento, yang juga menjabat sebagai Ketua Indonesia Cycling Federation (ICF) Kaltim, dinilai tidak perlu dibesar-besarkan.
Kepala Bidang Organisasi KONI Kota Balikpapan, Moeso Novianto, SH, menilai keberadaan Malvin di dua posisi tersebut tidak serta-merta dapat dianggap sebagai pelanggaran yang harus dipersoalkan secara berlebihan.
“Menurut saya terlalu berlebihan dan seharusnya tidak perlu diributkan sampai segitunya,” ujar Moeso.
Menurutnya, penerapan aturan maupun hukum di Indonesia tidak selalu bersifat kaku. Bahkan dalam sistem hukum pidana sekalipun, terdapat mekanisme tertentu yang memungkinkan penyelesaian perkara dengan mempertimbangkan kondisi dan kepentingan para pihak.
Ia mencontohkan mekanisme restorative justice (RJ) yang memungkinkan perkara pidana tertentu diselesaikan melalui dialog dan kesepakatan dengan mengutamakan pemulihan serta kepentingan bersama.
“Dalam penerapan pelanggaran pidana pun tidak kaku. Meski seseorang melakukan pelanggaran KUHP, masih ada ruang penyelesaian tertentu, bahkan dalam kondisi tertentu pelaku bisa tidak menjalani pidana penjara,” jelasnya.
Moeso yang juga berprofesi sebagai advokat tersebut kemudian menyinggung mekanisme judicial pardon atau rechterlijk pardon, yakni kewenangan hakim untuk memberikan pengampunan dalam kondisi tertentu sesuai pertimbangan hukum.
Menurutnya, prinsip tersebut menunjukkan bahwa penerapan aturan tetap memiliki ruang untuk melihat konteks dan kondisi yang terjadi.
“Artinya penerapan hukum dan peraturan di Indonesia tidak kaku-kaku amat. Masih ada ruang untuk mengambil jalur kesepakatan, untuk mengesampingkan apa yang sudah diatur sebelumnya,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut juga dapat menjadi pertimbangan dalam melihat penerapan AD/ART KONI, terlebih jika aturan organisasi tidak secara jelas mengatur sanksi atas kondisi rangkap jabatan yang dipersoalkan.
Menurut Moeso, penerapan aturan organisasi juga harus melihat kebutuhan dan kondisi daerah serta mengutamakan kepentingan organisasi.
“Kalau ada hal-hal yang sedikit berbeda dari apa yang sudah diatur, harus lebih banyak ruang untuk penyesuaian penerapannya mengikuti keadaan daerah masing-masing untuk kepentingan bersama,” ujarnya.
Moeso Ungkap Dukungan Finansial Malvin
Lebih jauh, Moeso mengatakan rangkap jabatan Malvin sejauh ini justru tidak menimbulkan dampak negatif terhadap KONI Balikpapan. Sebaliknya, menurut dia, Malvin justru banyak memberikan dukungan terhadap operasional organisasi.
Ia mengungkapkan, sejak kepengurusan saat ini dilantik hingga hampir delapan bulan berjalan, sejumlah kebutuhan operasional KONI Balikpapan disebut masih banyak ditopang secara mandiri oleh pengurus.
Mulai dari biaya pelantikan, operasional bulanan, gaji staf, pembayaran listrik dan air, hingga kebutuhan rapat, disebut berasal dari dana pribadi pengurus dan sebagian besar dari Malvin.
“Sejak pelantikan hingga saat ini pendanaan operasional KONI Balikpapan seperti pembiayaan pelantikan, operasional bulanan, gaji staf, iuran listrik dan air hampir delapan bulan ini, rapat-rapat bersumber dari dana mandiri pribadi pengurus KONI dan sebagian besar berasal dari kantong Bang Malvin,” bebernya.
Moeso juga menyebut pelaksanaan Rakerkot KONI Balikpapan sebelumnya turut mendapat dukungan finansial dari Malvin.
Menurutnya, fasilitas yang digunakan para peserta Rakerkot, termasuk mereka yang sebelumnya menyampaikan protes terhadap posisi Malvin, turut menikmati dukungan tersebut.
“Rakerkot KONI kemarin itu juga termasuk. Jadi bisa saya katakan, fasilitas yang digunakan dan dinikmati oleh peserta Rakerkot kemarin adalah dari Bang Malvin, termasuk yang protes kemarin juga menikmatinya. Mereka harus sadar itu,” tegasnya.
Tidak hanya itu, Moeso menyebut Malvin juga membantu membayarkan tunggakan gaji sejumlah staf KONI yang belum terselesaikan pada akhir periode kepengurusan sebelumnya.
Ia menilai pengorbanan tersebut seharusnya juga menjadi pertimbangan dalam melihat kontribusi Malvin terhadap organisasi.
“Kalau menurut saya mungkin uang yang keluar dari kantong Bang Malvin pribadi hampir Rp1 miliar. Dengan orang yang sudah mau berkorban seperti ini, masa adab kita seperti ini? Harusnya banyak-banyak terima kasih,” tandas Moeso. (*)





