Seputarkotaku.com, BALIKPAPAN – Kesibukan perempuan dalam berbagai aktivitas sosial dan kemasyarakatan tidak jarang menguras tenaga, baik secara fisik maupun mental. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Majelis Taklim Shofiyyah hadir sebagai ruang untuk kembali menguatkan iman sekaligus menyegarkan semangat para perempuan.
Majelis Taklim Shofiyyah yang dibina Hj Iim Rahman tersebut berlangsung di Masjid Al-Hidayah, Jalan Senayan, Kelurahan Karang Rejo, Kecamatan Balikpapan Tengah, dengan mengangkat tema “Wahai Muslimah Kamu Berhak Bahagia”. Kegiatan ini menghadirkan Ustadzah Mahmuddah Amin, LC., MA sebagai penceramah.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua TP PKK Kecamatan Balikpapan Tengah, Dian Fitria Yunita Ariefdah, yang juga merupakan istri Camat Balikpapan Tengah.
Hj Iim mengatakan majelis taklim tersebut tidak hanya menjadi tempat untuk mengikuti kajian keagamaan, tetapi juga menjadi ruang bagi para perempuan yang sehari-hari aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat untuk mengambil jeda dan mengisi kembali energi spiritual.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti telepon seluler yang terus digunakan hingga kehabisan daya dan membutuhkan pengisian ulang.
“Kalau HP dipakai terus itu pasti lowbet. Supaya bisa dipakai lagi, pastilah dicas. Nah, sama halnya kita para kader, kader Posyandu, kader Halte Sedekah dan kader-kader yang ada di masyarakat. Dengan segala kegiatannya yang seabrek-abrek, pastilah manusiawi capek dan sebagainya, karena lelah lahir batin,” ujar Hj Iim.
Menurutnya, pengajian menjadi salah satu cara untuk mengisi kembali semangat tersebut. Ia berharap setelah mengikuti kajian, para peserta dapat kembali menjalankan aktivitas dengan energi dan semangat yang lebih baik.
“Makanya ngecasnya ya di pengajian-pengajian ini. Mudah-mudahan dengan adanya pengajian yang kita namakan Majelis Taklim Shofiyyah ini bisa menyegarkan kembali. Ibu-ibu nanti setelahnya bisa bekerja dengan lebih semangat lagi,” katanya.
Nama Shofiyyah sendiri memiliki filosofi yang berkaitan dengan kelembutan dan kesucian. Hj Iim berharap para perempuan yang bergabung dalam majelis tersebut tidak hanya mendapatkan pengetahuan agama, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
“Shofiyyah itu artinya bisa lembut, bisa suci, bersih. Mudah-mudahan kita semua yang sudah ikut bergabung dan ikut ngaji di Majelis Taklim Shofiyyah itu bisa menjadi pribadi-pribadi yang baik ke depannya,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, tema tentang hak perempuan untuk bahagia juga menjadi bagian penting yang ingin disampaikan kepada peserta. Hj Iim mengajak para perempuan untuk memahami kembali bagaimana Islam menempatkan perempuan sebagai sosok yang dimuliakan.
Ia menyebut, kedatangan Islam membawa perubahan besar terhadap posisi perempuan dalam kehidupan masyarakat.
“Allah memosisikan perempuan, Allah memuliakan perempuan. Kalau dulu punya anak perempuan dibunuh, bahkan dikubur hidup-hidup. Tapi setelah datangnya Islam, posisi perempuan itu luar biasa,” ujarnya.
Menurut Hj Iim, pemahaman agama yang lebih mendalam dapat membantu perempuan melihat dirinya secara lebih positif. Hal tersebut dinilai penting di tengah berbagai kabar mengenai persoalan yang dialami perempuan.
“Kalau kita mengkaji Islam lebih dalam, kita itu berhak bahagia, karena Islam sendiri sudah memuliakan perempuan,” katanya.
Majelis Taklim Shofiyyah juga tidak dirancang untuk menggantikan kegiatan pengajian yang sudah berjalan di lingkungan masyarakat. Hj Iim mengatakan kegiatan tersebut sengaja dibuat tidak terlalu rutin agar para peserta tetap memiliki kesempatan mengikuti berbagai majelis taklim lainnya.
“Kita saling menghargai, saling memberikan waktu kepada teman-teman yang lain untuk ikut. Tetaplah mereka ikut di pengajian-pengajian RT-nya, ada pengajian-pengajian yang lain juga. Jadi kami tidak merutinkan tiap bulan atau tiap minggu. Ada jeda, karena kita tetap memberikan ruang buat pengajian-pengajian yang lain,” jelasnya.
Tidak berhenti pada kajian, setiap pertemuan juga diharapkan menghasilkan kegiatan nyata. Untuk September, Majelis Taklim Shofiyyah menyiapkan pelatihan fardu kifayah, khususnya terkait pengurusan jenazah.
Hj Iim mengatakan pelatihan tersebut nantinya tidak hanya berhenti pada pemberian materi. Peserta akan dibentuk dalam kelompok yang diharapkan siap membantu masyarakat ketika ada warga yang meninggal dunia.
“Setiap selesai pengajian ada goal yang bisa kita buat. Habis dicas mau ngapain? Habis dicas, ayo semangat lagi. Untuk pengajian bulan September, goal-nya adalah setelah ini pelatihan fardu kifayah. Dan ini enggak sekadar pelatihan. Setelah pelatihan, bentuk kelompoknya dan kelompok itu sudah harus siap,” ungkapnya.
Menurutnya, kebutuhan tenaga yang mampu mengurus jenazah masih menjadi persoalan di tengah masyarakat. Karena itu, ia ingin kader-kader muda turut dilibatkan agar keterampilan tersebut tidak hanya dikerjakan oleh generasi yang lebih tua.
“Kita siapkan perlengkapannya, yang mengkafani juga. Saya juga mengajak anak-anak muda, jangan yang tua-tua terus yang memandikan jenazah,” katanya.
“Orang tidak akan bergerak kalau dia tidak tahu apa manfaatnya buat dia. Kita kasih tahu dulu, kenapa mau memandikan jenazah, kenapa harus, apa manfaatnya. Luar biasa pahalanya buat yang mau memandikan jenazah itu,” pungkasnya. (*)





