Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera)
Seputarkotaku – Dalam setiap hubungan, merasa saling mengenal adalah klaim paling lumrah, apalagi sahabat, “tahu luar dalam” istilahnya. Hanya saja istilah “tahu luar dalam” nampaknya tidak berlaku bagi hubungan kita.
Aku Muslim, kau Katolik, “sama-sama sih,” bisa dibilang begitu. Meski sama-sama belum menyempurnakan agama dengan mengunjungi Mekkah bagi aku, dan kau belum juga ibadah di Roma sana. Tapi secara teori, semua rukun telah terpenuhi.
Tapi kenapa uniknya, kita yang sejak awal sudah saling kenal berbeda, dan terhenti setiap kali bicara kepada ranah keyakinan, “bukan ajaran” “sekali lagi bukan doktrin”, demikian tekanku. Tapi kepada palung terdalam bernama keyakinan.
Palung adalah memang bagian terdalam sekaligus istilah paling tepat untuk menggambarkan suasana hati saat ini yang berisi keyakinan sesungguhnya. Saya pribadi kalau boleh jujur selalu merasa degdegan setiap kali masuk atau sampai ke sana.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan, tetapi benar-benar terasa, seperti ketakutan yang kesalahan besar atau kekhawatiran akan akibat yang dapat ditimbulkan saat menyelaminya. Saat itu lah saya dapat pemahaman bahwa agama itu perkara sensitif adanya.
“Wait, has had God warned us about this?!” “No, God always tell the truth, not “strowman!” Nabi bahkan tidak melarang sahabatnya yang seorang penyair bahkan menjadi andalan Beliau yang mulia untuk mempersunting wanita dari pihak besannya sendiri. Di zaman sahabat juga sama ada dan banyak orang salih setelahnya tidak kalah populer kisah mereka. Padahal ya, bukankah hubungan yang paling dekat di dunia ini justru adalah suami istri?
Sebenarnya, tantangannya hebatnya tidak berhenti di sana! Sebagaimana yang telah sering kita diskusikan, meski perkara permukaan, namun bukankah menjadi suatu yang penting bagi suatu pasangan meski terkesan melawan! Yaitu legalitas atau peresmian dan restu pemerintah di hadapan hukum telah menjadi kesepakatan yang bersifat rahasia umum, maka dari itu, yang paling mungkin relevan menjadi catatan adalah seputar perumusannya, bahwa berdasar aturan agama di Indonesia adalah pernikahan tersebut mirip pernikahan sesama jenis jika fisik namun jenis ini berupa spiritual yang hukumnya sama: haram!
Pada kondisi tenang, saya pribadi bisa saja memaknai hubungan kita sebagai sahabat, teman dekat sekelas antara laki-laki dan perempuan yang adalah berbeda agama. Maka saya bersyukur saat perasaan ini yang dianugerahkan ilahi. Namun saatnya berdinamika, jujur saja, tidak menyalahkan, namun semacam menuntut mengapa sampai sangat intim hubungan kita, bahkan sampai berpuluhtahunan.
Sering saya merasa nyaman sesaat saat berdinamika tersebut seakan jawaban. Namun itu tadi, apa saya seakan sedang berada di dalam “palung” tersebut? Pastinya, ini yang paling penting, saya merasa diawasi Allahku dan tidak pernah alfa tersebut, makanya secara akurat memahami termasuk setiap rinci kondisi. Mungkin secara fisik tidak mungkin bertemu mengingat kesibukan dan jarak antara kita serta pesan singkat yang jarang saling bersapa “terhadap hati, apa aku telah mengkhianatiNya?” Pertanyaan ini yang sering kali terlintas dalam pikiranku.
Tapi “hey, look at you, are you going to do something foolish!” “No!” Ke mana kau, jangan ke mana-mana! Ingat kau bisa membuatku panik! Coba ingat lagi, ingat penggalan akhir dari puisi ini?!
“Sombong tentang Tuhan, Nubuat, dan amal shalih? Jika mau jujur, pengetahuan kalian tidak setara dengan pengetahuanku, jauh jauh…
Ajariku pluralisme agar kesombongan tidak menutupi hatiku akan kebenaran yang sesungguhnya…
Ajariku pluralisme, suatu kemungkinan cara hidup bersama, sama-sama dalam kebenaran yang bukan menghinakan namun justru memuliakan”
Hampir-hampir tinggal aku makan tanah lagi dan kau hampir mati! Kau jangan pergi ya dari jalan ini meninggalkanku di palung ini, jangan hilang! Ingat kita sudah saling kenal. Kau bahkan dikenalkan Tuhan langsung sebagai bagian dari Ahli Kitab, “you are kind of the expert, right?!” “Trust me that we have broken through it all, exactly!” Jangan ya, ku mohon jangan, “please!”
Sebagaimana saya komitmen menanti taqdirNya tentunya terbaik, berusaha memperbaiki dan mempersiapkan diri dari hari ke hari menjadi harapanku juga kepadamu untuk menanti, bila memang saat persahabatan tersebut berakhir indah di pelaminan untuk kita berdua.***





