Pers Sehat, Informasi Kuat, Bangsa Bermartabat

Oleh: Prakoso Yudho Lelono

BALIKPAPAN – Hari Pers Nasional bukan hanya milik insan media. Sejatinya milik kita semua. Karena setiap hari kita hidup dari informasi, narasi, data, penjelasan melalui berita.

Bacaan Lainnya

Tema tahun 2026 sangat tajam: Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat. Tiga kata kunci. Sehat. Berdaulat. Kuat. Semuanya berawal dari kualitas informasi atau berita.

Bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh infrastruktur. Tidak hanya oleh anggaran. Tidak hanya oleh program. Tapi oleh cara berpikir publik. Dan cara berpikir publik dibentuk oleh informasi yang dikonsumsi setiap hari. Kalau informasinya keruh, pikiran ikut keruh. Kalau informasi jernih, keputusan lebih jernih.

Hari ini tantangan terbesar kita bukan kekurangan informasi. Justru berlebihan. Arusnya begitu deras. Datangnya sangat cepat. Sumbernya begitu banyak. Tapi tidak semuanya kredibel. Hoaks menyebar cepat. Potongan video tanpa konteks beredar luas. Judul sensasional sering mengalahkan isi. Opini kadang menyamar sebagai fakta.

Di tengah situasi ini, pers profesional menjadi kebutuhan penyangga utama akal sehat publik. Pers yang sehat bekerja dengan disiplin. Cek fakta. Verifikasi sumber. Konfirmasi narasumber dan menguji data. Memberi ruang yang berimbang. Jika salah, dikoreksi. Inilah yang membuat pers berbeda dari sekadar konten.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menulis dalam The Elements of Journalism: “The first obligation of journalism is to the truth.” Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. Bukan sekedar sensasi, apalagi cuma viral.

Sebagai Ketua KPU Kota Balikpapan, saya melihat langsung dampak kualitas informasi terhadap kualitas demokrasi. Setiap tahapan pemilu dan pilkada selalu diikuti gelombang informasi. Dari jadwal. Aturan. Prosedur. Hingga hasil. Jika informasi benar dan utuh, publik tenang. Jika informasi simpang siur, publik akan bingung. Jika informasi salah, publik rentan gaduh.

Partisipasi pemilih sangat dipengaruhi oleh pemahaman masyarakat. Sementara pemahaman dibentuk oleh edukasi yang disalurkan lewat pers. Media membantu menerjemahkan bahasa regulasi menjadi bahasa publik. Membantu menjelaskan prosedur menjadi alur sederhana. Membantu membedakan fakta dan opini. Begitu terasa kontribusi besar bagi kualitas pemilu dan pilkada.

Pers juga menjadi saluran kontrol sosial. Mengawasi. Mengkritisi. Mengingatkan. Dan hal ini bukan gangguan bagi demokrasi. Justru penguat demokrasi.

Presiden Amerika ke-3, Thomas Jefferson, pernah berkata; jika harus memilih antara pemerintahan tanpa surat kabar atau surat kabar tanpa pemerintahan, ia memilih yang kedua. Dari sini pesannya jelas. Pers adalah pilar kebebasan. Namun kebebasan harus disertai tanggung jawab. Pers sehat bukan pers yang bebas tanpa batas. Tapi pers yang berlandas etika. Dengan standar dan integritas.

Tema Hari Pers Nasional tahun ini juga menautkan pers dengan ekonomi berdaulat. Ini sangat masuk akal. Ekonomi modern bergerak di atas informasi. Keputusan usaha bergantung pada data. Kebijakan pasar dipengaruhi pemberitaan. Persepsi publik memengaruhi perilaku konsumsi. Informasi ekonomi yang salah bisa menimbulkan kepanikan. Sebaliknya informasi yang akurat bisa menumbuhkan kepercayaan.

Media juga berperan mengangkat potensi ekonomi daerah. UMKM. Inovasi lokal. Produk kreatif. Peluang investasi. Kisah sukses wirausaha. Semua itu memperkuat ekosistem ekonomi.

Di daerah seperti Kota Balikpapan dan Kalimantan Timur, peran media lokal sangat terasa. Media lokal lebih dekat dengan realitas. Lebih peka konteks. Lebih cepat menangkap isu lapangan.

Bangsa kuat tidak hanya dibangun dari pusat. Tapi dari daerah. Dan media daerah adalah penguat denyut itu.

Dalam perspektif nilai, tradisi kita juga sangat menekankan pentingnya kebenaran informasi. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ini prinsip verifikasi. Prinsip tabayyun. Prinsip cek sebelum disebar. Nilai ini sangat sejalan dengan etika jurnalistik modern. Bahkan dalam hadis sahih riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Cukuplah seseorang disebut pendusta ketika ia menceritakan setiap yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Artinya jelas. Tidak semua yang didengar boleh langsung disebarkan. Harus disaring. Harus diuji. Harus diperiksa. Nilai ini relevan bukan hanya untuk jurnalis. Tapi untuk seluruh masyarakat digital hari ini.

Setiap pengguna ponsel sekarang adalah “penyebar informasi”. Setiap akun bisa menjadi sumber. Karena itu, tanggung jawab moral tidak hanya di ruang redaksi. Tapi juga di tangan publik. Pers sehat perlu publik yang sehat. Pembaca yang kritis. Penonton yang cermat. Warga yang tidak mudah terpancing.

Kami di KPU Kota Balikpapan memandang penting kemitraan terbuka dengan media. Data harus mudah diakses. Penjelasan harus tersedia. Klarifikasi harus cepat. Karena kekosongan informasi adalah lahan subur rumor. Lebih baik menjelaskan lebih awal daripada meluruskan di akhir.

Kritik media juga kami pandang sebagai masukan. Selama berbasis fakta. Karena kami sadar betul bahwa lembaga publik tidak boleh anti kritik. Transparansi adalah bagian dari akuntabilitas.

Tokoh pers Indonesia, Jakob Oetama, pernah mengingatkan: “Pers yang baik bukan hanya memberi tahu apa yang terjadi, tetapi membantu masyarakat mengerti apa yang terjadi.” Bahwa memberi tahu itu penting. Tetapi membuat mengerti jauh lebih penting. Itulah pers yang sehat.

Di tengah tekanan disrupsi digital, perubahan model bisnis, dan kompetisi platform global, menjaga kesehatan pers memang tidak mudah. Tapi justru di situ nilai perjuangannya. Integritas menjadi pembeda. Disiplin verifikasi menjadi fondasi. Kepercayaan publik menjadi tujuan.

Hari Pers Nasional adalah momen apresiasi. Untuk jurnalis lapangan. Editor. Fotografer. Produser. Seluruh pekerja media. Yang bekerja di balik layar. Di bawah tekanan waktu. Demi satu hal: informasi yang layak bagi publik.

Mari kita rawat ekosistem informasi bersama. Pers sebagai garda terdepan menjaga etika pemberitaan yang berintegritas. Lembaga publik menjaga keterbukaan. Masyarakat menjaga literasi. Karena ketika pers sehat, informasi kuat. Dan jika informasi kuat, keputusan publik niscaya akan tepat. Dan bangsa berdiri lebih bermartabat.

Selamat Hari Pers Nasional

Ketua KPU Kota Balikpapan

Pos terkait