Mengenang 1 Bulan Kepergian Ketua Umum MUI Kota Balikpapan Almarhum Habib Mahdar Abubakar Al-Qadri, MA.

Oleh : Erlina Juniningsih (Guru Swasta Balikpapan, Kaltim) 

Ulama Sederhana, Penyatu Umat, dan “Habib Gaul” Kota Balikpapan

Bacaan Lainnya

Seputarkotaku.com – Balikpapan kehilangan salah satu putra terbaiknya. Kepergian Almarhum Habib Mahdar Abubakar Al-Qadri, MA, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Balikpapan, bukan hanya duka bagi keluarga, tetapi juga bagi seluruh umat yang pernah merasakan keteduhan nasihatnya, kelembutan tutur katanya, dan kehangatan senyumnya.

Habib Mahdar dikenal sebagai ulama yang memiliki tiga ciri utama : kesederhanaan, pemersatu umat, dan sosok “Habib gaul” yang dekat dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang.

Kesederhanaan yang Menyentuh Hati

Dalam keseharian, beliau tidak pernah menampilkan jarak antara dirinya dengan masyarakat. Kesederhanaan bukan sekadar pakaian atau gaya hidup, melainkan juga cara berpikir dan bersikap. Beliau hadir sebagai pemimpin agama yang tidak mengedepankan formalitas, tetapi lebih kepada ketulusan. Dari mimbar dakwah hingga ruang-ruang pertemuan kecil, Habib Mahdar selalu menebar kearifan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Kesederhanaan itu membuat siapa pun merasa nyaman. Tidak sedikit jamaah yang merasa bahwa duduk bersama beliau bagaikan duduk bersama sahabat lama—penuh keakraban, kehangatan, dan tanpa sekat.

Penyatu Umat di Tengah Keberagaman

Sebagai Ketua Umum MUI Kota Balikpapan, Habib Mahdar memikul amanah besar : merawat persatuan umat Islam sekaligus membangun harmoni dengan masyarakat lintas agama. Beliau menyadari bahwa Balikpapan adalah kota majemuk yang hidup dari semangat toleransi.

Dengan kebijaksanaan, Habib Mahdar mampu merangkul berbagai kelompok. Beliau tidak hanya berdiri di atas satu golongan, tetapi menjembatani perbedaan. Dalam setiap forum, beliau menekankan pentingnya ukhuwah-ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, hingga ukhuwah insaniyah. Baginya, perbedaan adalah kekayaan yang harus dirawat dengan kasih sayang, bukan dipertentangkan.

Jejaknya sebagai penyatu umat akan terus hidup dalam ingatan Balikpapan, terutama di saat-saat genting ketika beliau selalu menjadi penenang di tengah riak-riak perbedaan.

Habib Gaul yang Dekat dengan Generasi Muda

Di balik kewibawaannya, Habib Mahdar juga dikenal sebagai sosok “Habib gaul”. Istilah ini bukan tanpa alasan. Beliau pandai membawakan diri dalam berbagai suasana, termasuk saat bersama anak muda. Dengan gaya yang santai namun penuh makna, beliau mampu masuk ke ruang-ruang Generasi Milenial dan Gen Z.

Beliau tidak segan menyesuaikan bahasa agar mudah dipahami, menggunakan humor untuk mencairkan suasana, bahkan merangkul budaya populer selama tidak bertentangan dengan syariat. Hal ini menjadikan Habib Mahdar sosok yang dicintai lintas generasi. Bagi anak muda, beliau adalah teladan yang bisa diteladani tanpa merasa digurui.

Warisan yang Tak Akan Padam

Kepergian Habib Mahdar Abubakar Al – Qadri, MA, meninggalkan duka mendalam. Namun, lebih dari itu, beliau meninggalkan warisan yang tidak ternilai : teladan kesederhanaan, semangat persatuan, dan dakwah yang membumi.

Masyarakat Balikpapan akan selalu mengenangnya sebagai ulama yang tidak hanya berdiri di mimbar, tetapi juga hadir di tengah-tengah umat, merangkul dengan kasih sayang, dan mendidik dengan ketulusan.

Doa terbaik dipanjatkan untuk almarhum. Semoga Allah SWT melapangkan kuburnya, menempatkannya di sisi para shalihin, dan menjadikan amal dakwahnya sebagai cahaya abadi bagi umat.

“Habib Mahdar bukan hanya milik keluarganya, tetapi milik kita semua. Ulama sederhana, penyatu umat, dan Habib gaul yang akan selalu hidup dalam kenangan Balikpapan.”***

Pos terkait