Oleh : Erlina Yuniningsih, SE., S. Pd.
Kepala Sekolah SMP Plus Nurul Khaeraat Al – Muhibbiin Balikpapan.
Hari ini, tepat seratus hari telah berlalu sejak pelita hati kami padam. Pada 1 September 2025, bertepatan dengan 8 Rabiul Awal 1447 H, Al Habib Mahdar Abubakar Al – Qadri, MA, berpulang ke rahmatullah.
Kepergian mendadak akibat serangan jantung ini meninggalkan luka yang masih terasa segar di dada, namun juga menguatkan kami untuk terus mengenang segala kebaikan dan keteladanannya. Balikpapan, kota yang dicintainya, seolah hening sejenak saat kabar duka itu menyebar.
Ribuan santri memadati halaman Pondok Pesantren Asy – Syifa di Jalan Giri Rejo Km 15, menangis haru saat menshalatkan jenazahnya. Bukan hanya duka, tapi juga rasa syukur atas jejak kebaikan dan persatuan yang beliau tinggalkan.
Di tengah kesibukan memimpin pondok modern dan panti asuhan, kini kami belajar bangkit, sambil terus berdoa agar ruhnya ditempatkan di kalangan orang-orang saleh dan syuhada.
Sosok Suami dan Ayah Teladan : Cinta Tak Berbatas di Lingkungan Keluarga nan Sederhana.
Sebagai suami dan ayah, beliau adalah pelukan hangat di pagi yang dingin, dengan kesederhanaan yang luar biasa. Beliau memilih tinggal di sebuah kontainer modifikasi bersama istri dan kedua anaknya, mencerminkan kondisi kamar-kamar santri di pondok pesantrennya.
Hunian sederhana ini menjadi saksi bisu kehangatan keluarga yang tak lekang oleh waktu. Setiap hari, beliau menyempatkan waktu untuk sarapan bersama kami di rumah kontainer kami, bertanya tentang mimpi anak-anak dengan senyum lembut yang selalu menenangkan.
“Lina, anak-anak adalah amanah terbesar kita,” katanya suatu malam, sambil mengusap kepala putra kami, Syarif Alifian atau Alif, yang kini menjadi prajurit TNI dan sedang menjalani pendidikan di Batu Jajar, Bandung.
Beliau bangga melihat Alif tumbuh tegar, sering berpesan agar ia lindungi negeri dengan iman yang kuat seperti saat Alif pertama kali mengenakan seragam TNI, beliau berdoa di sampingnya.
“Jadilah prajurit yang tak lupa Rabbnya, Alif, karena senjata terbaik adalah hati yang bersih.” Anak kedua kami, Najwa, yang kini mondok dan bersekolah di MA Asy Syifa, juga menjadi pujaan hatinya.
Beliau kerap menengoknya di pesantren, duduk berjam-jam membimbingnya menghafal Al-Qur’an sambil berpesan, “Najwa, ilmu adalah cahaya, tapi akhlak adalah pelitanya jangan pernah biarkan dunia meredupkanmu.”
Kelembutan beliau bukan sekadar kata, tapi termanifestasi dalam Sosok Suami dan Ayah Teladan : Cinta Tak Berbatas di Lingkungan Keluarga nan Sederhana.
Tindakan-tindakan kecil yang penuh makna : membawa pulang buah favorit dari pasar, atau diam-diam membayar biaya sekolah santri yatim yang membutuhkan.
Di rumah kontainer sederhana kami, beliau adalah Habib yang tak mengenal kata lelah untuk keluarga, mengajarkan kami makna sejati dari qana’ah (merasa cukup) dan ridha (ikhlas).
Habib yang Dicintai Umat : Jejak Kepedulian dan Pelayanan Sosial
Kepedulian beliau meluas ke setiap jiwa yang beliau temui, terutama dalam membimbing santri dan anggotanya, di mana kesederhanaannya menjadi teladan nyata.
Sebagai Pimpinan Pondok Modern & Panti Asuhan Nurul Khaeraat Lil Muhibbiin, beliau tak pernah absen di majelis ta’lim malam. Di sana, ia membimbing santri dengan penuh kasih, seperti momen saat seorang santri yatim bernama Ahmad ragu melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya.
Beliau memeluknya dan berkata, “Kamu bukan yatim di mata Allah, Ahmad; bangkitlah dengan ilmu, dan pintuku akan jadi jembatanmu.” Kesederhanaan dalam kehidupannya sehari-hari, dengan memilih tinggal di kontainer yang sama seperti santri, menunjukkan betapa dekatnya beliau dengan denyut kehidupan mereka.
Santri lain mengenang saat beliau turun tangan membersihkan dapur dan halaman pondok, sambil tertawa, “Pemimpin harus jadi teladan, bukan hanya kata termasuk dalam kesederhanaan dan kebersihan.”
Bagi anggota Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) se Balikpapan yang ia pimpin (masa khidmat 2025-2030), beliau adalah teladan saat rapat panjang.
Beliau selalu mengajak mereka shalat berjamaah terlebih dahulu sebelum berdiskusi, sambil berpesan, “Organisasi kuat jika hatinya terhubung dengan Allah jangan biarkan ambisi mengalahkan ukhuwah.” Di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Balikpapan masa khidmat 2021–2026), beliau aktif mengawal dakwah dan pendidikan pemuda, menenangkan isu sensitif seperti LGBT dan penggunaan pengeras suara masjid dengan bijak, serta membina generasi muda agar tumbuh harmonis dan berakhlak. Tokoh seperti KH Muhammad Rasyid dari MUI Kaltim mengenangnya sebagai sosok familiar yang menyatukan umat.
Pilar Umat dan Tokoh Kharismatik Balikpapan : Warisan Kepemimpinan
Untuk para pemangku kepentingan di Balikpapan mulai dari walikota, pejabat, hingga tokoh masyarakat, beliau sering menyampaikan pesan abadi yang mencerminkan kebijaksanaannya : “Pemimpin adalah penggembala, utamakan umat di atas segalanya, jaga harmoni dengan ilmu dan taqwa.”
Saat bertemu Wali Kota Rahmad Mas’ud, beliau berpesan agar pembangunan kota tak melupakan pondok pesantren sebagai benteng moral, “Bangun gedung megah boleh, tapi bangun hati umat lebih utama karena Balikpapan kuat jika imannya kokoh.”
Ia juga menasihati para pengusaha lokal, “Rezeki adalah amanah; sebarkan ke yatim dan fakir, agar berkahnya abadi dan berlimpah.” Kesederhanaan hidupnya adalah bukti nyata bahwa harta dan pangkat tak pernah melunturkan komitmennya untuk berkhidmat pada umat.
Kepergiannya menyayat hati : saya sebagai istri ditinggal sendiri memimpin sekolah, Alif jauh di Bandung kehilangan panutan militer-religiusnya, Najwa di asrama Asy Syifa berjuang tanpa bimbingan langsung dari ayah, santri seperti Ahmad berderai air mata kehilangan bapak asuh yang penuh perhatian, anggota organisasi merasa hampa tanpa kompas rohani, dan para sahabat serta pemangku kepentingan di Balikpapan merasa kehilangan pilar besar yang pintar dan sangat disegani.
Meneruskan Api Semangat dan Keteladanan : Harapan dan Doa
Seratus hari ini, duka perlahan berubah menjadi api semangat yang tak pernah padam. Kami, keluarga dan seluruh komunitas yang beliau sentuh, meneruskan visinya.
Pondok tetap ramai dengan lantunan qasidah dan kajian ilmu panti asuhan penuh tawa anak-anak yatim yang ceria, Alif dan Najwa terus belajar mandiri sambil membawa amanah mulia dari ayah mereka, santri melanjutkan hafalan dengan semangat baru, dan organisasi-organisasi yang beliau bangun tetap solid dalam menjaga harmoni umat.
Beliau mengajarkan kepada kami bahwa kehilangan bukanlah akhir, melainkan panggilan untuk menjadi lebih baik dan melanjutkan perjuangan. Di setiap shalat malam, saya selalu berbisik, memanjatkan doa tulus : “Ya Habib, doakan Alif, Najwa, santri, anggota, dan kami semua kuat melanjutkan amanahmu.
Semoga setiap kebaikan yang kami lakukan menjadi pahala jariyah bagimu.” Warisan beliau abadi : seorang pemimpin yang tak hanya disegani karena ilmunya, tapi juga dicinta karena hatinya yang tulus, kesederhanaannya yang menginspirasi, dan pengabdiannya yang tanpa batas kepada umat.
Selamat Jalan, Pelita Hati Kami
Di ufuk senja kehidupan ini, engkau pergi meninggalkan jejak bintang yang tak pernah redup, wahai Habib tercinta. Kontainer sederhana tempat kita berbagi tawa kini sunyi tanpa suaramu, namun setiap dindingnya masih bergema dengan nasihatmu yang abadi. Alif menatap langit Bandung dengan mata ayahnya, Najwa memeluk Al-Qur’an dengan dekapan kasihmu, santri menangis di pelataran pondok merindukan bapak asuhnya, Balikpapan kehilangan penyatu umatnya. Namun di balik air mata ini, kami tahu… engkau telah pulang kepada-Nya dengan hati yang suci, tangan yang penuh amal, dan wajah yang berseri. Ya Allah,
jadikanlah kuburnya sebagai taman dari surga-Mu yang teduh, lapangkan dadanya, maafkan dosanya, satukan kami dengannya di Firdaus yang tertinggi. Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad, ampunilah Habib Mahdar Abubakar Al – Qadri dan keluarganya. Aamiin Yaa Rabbal ‘aalamiin.(*)





