Bank Indonesia Balikpapan Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Workshop Entrepreneurship 2026

Seputarkotaku.com, BALIKPAPAN – Penguatan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menjadi perhatian Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif dan berdaya saing.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Workshop Entrepreneurship Tahun 2026 bertema “Akselerasi UMKM Naik Kelas: Memperkuat Fondasi Bisnis, Strategi Pasar, serta Inovasi Produk untuk Mendorong Pengembangan Usaha Secara Berkelanjutan dan Berdaya Saing” yang digelar pada 17–18 Juni 2026 di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan.

Bacaan Lainnya

Sebanyak 100 pelaku UMKM terkurasi dari Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kabupaten Paser, hingga wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) mengikuti kegiatan tersebut. Workshop juga melibatkan sejumlah pondok pesantren binaan KPwBI Balikpapan yang memiliki unit usaha produktif sebagai bagian dari penguatan ekonomi pesantren.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan UMKM memiliki peran strategis sebagai tulang punggung perekonomian daerah, mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat, hingga penguatan inklusi ekonomi dan pengembangan pasar ekspor.

“UMKM memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah, baik dalam menciptakan lapangan kerja maupun meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Namun demikian, menurutnya masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi pelaku UMKM, seperti keterbatasan pola pikir kewirausahaan (entrepreneurial mindset), kapasitas manajerial, inovasi produk, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan usaha.

“Pemahaman mengenai branding, kemasan produk, akses pasar digital dan ekspor, hingga akses pembiayaan usaha juga masih menjadi tantangan bagi sebagian UMKM,” katanya.

Karena itu, Workshop Entrepreneurship digagas sebagai langkah nyata untuk mendorong UMKM agar mampu naik kelas dan memiliki daya saing yang lebih kuat.

Workshop tersebut dirancang secara komprehensif dengan dua kelompok pembelajaran, yakni Kelas Fondasi Usaha untuk UMKM yang sedang merintis usaha dan Kelas Akselerasi Usaha bagi UMKM yang telah berkembang dan tengah memperluas pasar.

Pada Kelas Akselerasi Usaha, peserta mendapatkan pembekalan mengenai kesiapan ekspor (export readiness), strategi membangun bisnis untuk pasar internasional, penguatan storytelling dalam pemasaran digital, pemetaan tren pasar, hingga strategi pembiayaan usaha.

Sementara itu, peserta Kelas Fondasi Usaha dibekali penguatan dasar-dasar pengelolaan usaha profesional, pemasaran digital, teknologi kemasan, manajemen operasional, hingga penyusunan model bisnis.

Sebagai bentuk pendekatan implementatif, seluruh peserta juga diminta menyusun Business Model Canvas (BMC) yang dipresentasikan langsung di hadapan narasumber untuk mendapatkan masukan sekaligus penilaian pengembangan usaha terbaik.

“Melalui pendekatan BMC ini diharapkan peserta mampu mengidentifikasi tantangan usahanya, menyusun strategi pengembangan bisnis yang lebih terarah, serta memperkuat kesiapan ekspansi usaha dan pasar ke depan,” jelas Robi.

Workshop menghadirkan pengajar UMKM sukses mitra Bank Indonesia dari Jawa Barat dan Jawa Timur yang telah menembus pasar ekspor.

Salah satunya Nurdini Prihastiti, Founder Dama Kara, pelaku usaha produk ready to wear yang telah memasarkan produknya ke pasar internasional sekaligus memberdayakan anak berkebutuhan khusus dalam proses desain produknya.

Selain itu hadir pula Sri Astutik, Founder dan CEO PT Sari Bhuwana Nusajaya (Aranaspice), UMKM produk rempah alami yang telah berhasil menembus pasar ekspor ke berbagai negara.

Kegiatan Workshop Entrepreneurship ini juga menjadi bagian dari rangkaian Road to Pekan Ekonomi Syariah Nusantara (PESAN) 2026 serta mendukung Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (FESyar KTI) dan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.

Ke depan, KPwBI Balikpapan berkomitmen terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah, Otorita IKN, korporasi, lembaga pembiayaan, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk menciptakan ekosistem UMKM yang lebih tangguh, inovatif, dan berdaya saing.

“Melalui penguatan kapasitas dan kualitas produk secara berkelanjutan, kami berharap UMKM mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar, memperluas akses pasar, serta memberikan kontribusi yang semakin signifikan terhadap perekonomian daerah,” tutup Robi.(*)

Pos terkait