Seputarkotaku.com, BALIKPAPAN – Lahan tidur di kawasan Bukit Sion, Balikpapan, mulai disulap menjadi bagian dari pengembangan ekonomi masyarakat.
Gagasan tersebut didorong Anggota DPRD Kota Balikpapan, Nelly Turuallo, yang sekaligus menjadi pembina dua kelompok UMKM di kawasan tersebut.
Kedua UMKM itu yakni Bintang Jaya Sion yang bergerak di bidang budidaya ikan air tawar dan Violet Borneo yang mengembangkan usaha kuliner. Keduanya berada dalam satu kawasan dan mayoritas anggotanya merupakan jemaat GPIB Bukit Sion.
Nelly melihat keberadaan dua UMKM tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi satu mata rantai ekonomi. Ikan yang dibudidayakan Bintang Jaya Sion tidak hanya dijual dalam bentuk ikan segar, tetapi dapat diolah oleh UMKM Violet Borneo menjadi menu kuliner.
“Jadi ada sinergi. Ikan dari atas tidak hanya dijual mentah, tetapi orang bisa datang melihat ikan, membeli, kemudian meminta dimasakkan karena di bawah ada dapur kuliner,” kata Nelly, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, pola tersebut dapat menciptakan perputaran ekonomi di satu kawasan. Konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga mendapatkan pengalaman dari proses budidaya hingga pengolahan makanan.
Potensi tersebut kemudian dikembangkan lebih jauh melalui pemanfaatan lahan yang sebelumnya belum produktif. Nelly mendorong masyarakat mengelola lahan tidur menjadi kebun yang tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga menghasilkan komoditas yang memiliki nilai ekonomi.
Salah satu yang menjadi prioritas adalah tanaman cabai. Komoditas tersebut dinilai strategis karena selain menjadi kebutuhan dapur kuliner Violet Borneo, cabai juga merupakan salah satu komoditas pangan yang kerap berpengaruh terhadap inflasi di Balikpapan.
“Menyadari salah satu produk pangan yang sering memicu inflasi di Balikpapan itu cabai, di belakang masih ada lahan yang luas dan belum dimanfaatkan. Saya tantang jemaat bagaimana lahan tidur itu dikelola menjadi sesuatu yang berdaya guna,” ujarnya.
Saat ini, persiapan lahan dan penyemaian bibit cabai telah dilakukan. Ke depan, hasil panen diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan dapur Violet Borneo, tetapi juga dapat dipasarkan kepada masyarakat sekitar.
Pengembangan lahan tersebut pun tidak berhenti pada cabai. Nelly mendorong penanaman berbagai tanaman bumbu dan pangan, seperti serai, kunyit, jahe, lengkuas hingga jeruk. Tanaman daun singkong juga dinilai berpotensi dikembangkan sebagai pelengkap menu kuliner.
“Tidak hanya cabai. Saya ajak juga tanam serai, kunyit, jahe, laos, karena itu bagian dari perbumbuan. Di situ juga sudah ada pohon jeruk dan daun singkong yang tumbuh subur,” tuturnya.
Dari konsep tersebut, Nelly bahkan melihat kawasan Bukit Sion berpeluang dikembangkan menjadi mini wisata berbasis UMKM. Pengunjung nantinya dapat melihat budidaya ikan, kebun tanaman pangan, sekaligus menikmati kuliner dalam satu kawasan.
“Dari sisi lain, bisa juga dijadikan objek yang nanti bisa dikunjungi. Jadi seperti mini wisata. Itu harapannya,” ungkap Nelly.
Diceritakan Nelly, usaha UMKM Bintang Jaya Sion yang telah berjalan lebih dari setahun menunjukkan perkembangan. Jika sebelumnya kolam budidaya hanya beberapa petak, kini seluruh area kolam telah terisi.
Jenis ikan yang dibudidayakan saat ini antara lain nila dan gurami. Kelompok tersebut sebelumnya juga mencoba membudidayakan ikan lele, namun kemudian memilih fokus pada nila dan gurami karena budidaya ikan lele dinilai membutuhkan ketelatenan lebih dalam proses pemeliharaannya.
Masih Nelly, selain menyediakan ikan siap konsumsi, Bintang Jaya Sion kini juga mulai menyediakan bibit ikan. Konsumen dapat memesan ikan untuk kemudian dibersihkan sebelum dibawa pulang.
Untuk meningkatkan kemampuan pengelola, Nelly menghubungkan kelompok tersebut dengan Dinas Perikanan Kota Balikpapan. Secara berkala, petugas lapangan memberikan bimbingan teknis mengenai pengelolaan kolam dan pemeliharaan ikan.
“Kalau kita memelihara ikan, kita belum tentu paham pH air seperti apa yang nyaman, bagaimana mengganti air, atau memberikan pakan. Karena itu saya minta Dinas Perikanan memberikan bimbingan,” jelasnya.
Menurut Nelly, pendampingan tersebut mulai memberikan hasil. Para pengelola kini semakin memahami kondisi air, pola pemberian pakan hingga ciri-ciri ikan ketika sudah cukup mendapatkan makanan.
Tak hanya itu, air limbah dari kolam ikan juga tengah diarahkan untuk dimanfaatkan kembali sebagai sumber penyiraman tanaman di kawasan kebun.
Nelly juga berharap pengembangan kedua UMKM tersebut mendapat dukungan dari sektor perbankan, terutama dalam hal permodalan dan peningkatan kemampuan pemasaran.
Ia menyebut, terdapat peluang pembiayaan bagi pelaku UMKM melalui perbankan BUMN dengan skema pinjaman tanpa agunan untuk kebutuhan modal kerja, dengan besaran yang disesuaikan berdasarkan analisis kebutuhan masing-masing pelaku usaha.
“Harapannya ada uluran tangan bantuan, karena salah satu kesulitan UMKM adalah modal. Misalnya dari perbankan atau bank-bank BUMN yang memiliki program maupun CSR untuk membantu,” katanya.
Selain modal, Nelly menilai pendampingan dalam pemasaran digital juga sangat penting. Sebab, tidak semua pelaku UMKM, khususnya generasi yang tidak tumbuh bersama teknologi digital, mampu memanfaatkan media sosial secara maksimal.
Menurutnya, pola pemasaran UMKM yang sebelumnya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut kini harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui Instagram, Facebook maupun platform digital lainnya.
“Sekarang dengan adanya Instagram, Facebook dan sebagainya, penyampaian informasi bisa lebih cepat. Karena itu UMKM juga perlu dibantu dari sisi sumber daya teknologi,” ujarnya.
Di sisi kelembagaan, kedua kelompok UMKM tersebut juga tengah melengkapi legalitas. Proses pembuatan akta melalui notaris sedang berjalan, yang nantinya diharapkan dilanjutkan dengan pengurusan AHU di Kementerian Hukum dan HAM serta NPWP.
Setelah legalitas lengkap, kelompok tersebut ditargetkan dapat didaftarkan ke Kesbangpol sebagai organisasi yang dapat bermitra dengan pemerintah.
Nelly berharap proses tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan keseriusan pengelola dalam mengembangkan usaha.
“Saya berharap dengan selesainya pengurusan legalitas dan kemudian dikukuhkan sebagai UMKM yang bermitra dengan pemerintah, mereka bisa semakin sungguh-sungguh dan itu menjadi motivasi untuk bekerja,” katanya.
Bagi Nelly, pengembangan UMKM tidak harus langsung dimulai dengan target besar. Menurutnya, keberhasilan usaha justru harus dibangun secara bertahap dengan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar.
“Kalau kita usaha itu jangan lihat dulu hasilnya. Mimpinya memang harus besar, tetapi harus dimulai. Tidak ada uang Rp100 ribu kalau tidak ada Rp1.000,” tegasnya.
Ia menambahkan, penguatan UMKM merupakan bagian penting dalam membangun ekonomi masyarakat dari tingkat paling bawah.
Karena itu, sinergi antara pelaku usaha, pemerintah, perbankan, dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi mampu berkembang menjadi sumber ekonomi baru bagi lingkungan sekitarnya. (*)





