Bank Indonesia Sulap Desa Ketapanrame Mojokerto Naik Kelas Lewat Wisata, Kopi dan Jeruk Nagami

Seputarkotaku.com, Mojokerto -Desa wisata di Mojokerto terus menunjukkan geliat ekonomi berbasis masyarakat. Salah satu contohnya datang dari Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur yang berhasil mengembangkan sektor wisata dan UMKM melalui kolaborasi bersama Bank Indonesia.

Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin saat diwawancarai, Jumat (22/5/2026) menjelaskan bahwa dukungan Bank Indonesia, khususnya dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Surabaya, menjadi salah satu faktor penting dalam percepatan pertumbuhan ekonomi desa.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, Bank Indonesia tidak hanya membantu promosi wisata, tetapi juga membangun ekosistem usaha masyarakat mulai dari pendampingan produksi, pengolahan produk, legalitas usaha, hingga pemasaran internasional.

“Bank Indonesia hadir dan kami yakin ini bisa mempercepat serta memudahkan pengembangan desa wisata kami,” ujarnya.

Ia menjelaskan, potensi budidaya kopi robusta dinilai cocok dikembangkan di wilayah Kalimantan karena memiliki kesamaan kontur tanah dengan daerah lain seperti Sumatra dan Bali.

Sementara itu, budidaya jeruk nagami diperkirakan sulit berkembang optimal di Kalimantan karena membutuhkan kawasan berhawa sejuk.

Di Ketapanrame sendiri, dukungan BI dirasakan langsung oleh pelaku usaha desa. Pendampingan dilakukan dari hulu hingga hilir, termasuk menghadirkan konsultan khusus selama berbulan-bulan untuk meningkatkan kualitas produk dan daya saing UMKM desa.

Hasilnya, produk-produk desa yang sebelumnya hanya dipasarkan secara lokal kini mulai dikenal hingga luar negeri. Produk olahan kopi dan makanan ringan berbasis kopi bahkan sempat mendapat permintaan ekspor dari Jepang dan China.

“Dulu produk kami belum banyak dikenal. Setelah didampingi BI dan mengikuti berbagai pameran serta festival, produk kami naik kelas dan mulai dikenal hingga luar negeri,” katanya.

Tidak hanya membantu promosi, Bank Indonesia juga memfasilitasi pengurusan legalitas usaha seperti pembentukan badan usaha berbentuk PT, sertifikasi halal berstandar internasional, hingga persiapan administrasi ekspor.

Menurut pemerintah desa, dampak terbesar dari pendampingan BI terlihat pada peningkatan pendapatan masyarakat. Aktivitas wisata yang terus berkembang membuat perputaran ekonomi desa meningkat, mulai dari sektor kuliner, penginapan, penjualan tiket wisata, hingga produk UMKM.

Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin saat memaparkan perkembangan Desa Wisata Ketapanrame

Desa Ketapanrame menerapkan model investasi berbasis masyarakat melalui program urun dana. Warga dapat menanamkan modal mulai Rp1 juta untuk pembangunan wahana wisata desa. Dana masyarakat yang terkumpul mencapai lebih dari Rp4 miliar dan dikelola melalui BUMDes.

Keuntungan usaha kemudian dibagikan secara transparan setiap bulan kepada warga investor. Pemerintah desa menyebutkan, warga yang menanamkan modal Rp10 juta rata-rata memperoleh tambahan pendapatan lebih dari Rp500 ribu per bulan.

Bahkan pada musim liburan dan momentum Lebaran, keuntungan yang diterima warga bisa mencapai jutaan rupiah dalam satu bulan.

“Modal masyarakat bahkan bisa kembali dalam waktu kurang dari satu tahun. Setelah itu mereka tinggal menikmati hasil usaha yang terus berjalan,” ujarnya.

Selain pengembangan usaha, Bank Indonesia juga mendorong transformasi digital di kawasan wisata Ketapanrame melalui penerapan sistem pembayaran non-tunai berbasis QRIS.

Pemerintah desa mengakui pada awalnya para pelaku UMKM masih kesulitan beradaptasi dengan sistem pembayaran digital. Sebagian warga lebih percaya menggunakan uang tunai karena dinilai lebih praktis dan langsung bisa digunakan untuk membeli bahan baku usaha di pasar.

“Awalnya masyarakat masih ragu menggunakan QRIS. Mereka khawatir uang belum masuk, apalagi banyak notifikasi SMS perbankan yang dikenakan biaya,” katanya.

Namun secara bertahap, pemerintah desa bersama Bank Indonesia melakukan edukasi digitalisasi transaksi kepada pelaku UMKM dan mitra usaha warga.

Tidak hanya tenant wisata yang diwajibkan memiliki QRIS dan rekening bank, para pemasok bahan baku seperti petani dan pedagang lokal juga didorong masuk dalam ekosistem perbankan.

Hasilnya, kini lebih dari 2.000 warga desa telah memiliki rekening bank dan mulai terbiasa menggunakan transaksi non-tunai di kawasan wisata.

“Hampir semua stan di lokasi wisata sekarang sudah memasang barcode QRIS. Dulu memang sulit, tapi sekarang masyarakat sudah mulai familiar,” ujarnya.

Dukungan Bank Indonesia juga terlihat dari pembangunan infrastruktur penunjang wisata. BI memasang berbagai papan penunjuk arah menuju lokasi wisata Ketapanrame hingga fasilitas umum desa.

Selain itu, BI juga membangun gazebo di sejumlah titik wisata untuk tempat berteduh pengunjung saat hujan maupun panas.

“Dulu wisatawan kesulitan mencari tempat berteduh karena konsep wisata kami alam terbuka. Sekarang sudah dibantu gazebo oleh BI,” katanya.

Untuk mendukung operasional wisata, BI turut memberikan bantuan mesin kasir lengkap dengan perangkat komputer dan aplikasi pendukung transaksi digital.

Tidak hanya sektor wisata, pengembangan industri kopi desa juga mendapat perhatian besar dari Bank Indonesia.

Berbagai fasilitas pengolahan kopi diberikan mulai dari mesin pemilah biji kopi, mesin pengering, mesin roasting, grinder, hingga rumah produksi untuk proses pengolahan kopi.

Bank Indonesia bahkan membantu penyediaan genset berkapasitas besar agar seluruh mesin pengolahan kopi dapat beroperasi optimal.

“Mulai kopi datang sampai menjadi bubuk atau bean, semua proses sekarang sudah dibantu fasilitas dari BI,” ujarnya.

Pendampingan BI terhadap kelompok kopi dimulai sejak 2024. Saat itu, BI melihat desa wisata Ketapanrame sudah berkembang, namun membutuhkan produk unggulan agar memiliki nilai tambah ekonomi lebih besar.

Sebelumnya, kopi Ketapanrame hanya dipasarkan secara lokal. Setelah mendapat pendampingan BI, produk kopi desa mulai rutin mengikuti berbagai event nasional dan dikenal lebih luas.

“Dengan hadirnya BI, kami jadi sering ikut event nasional sehingga kopi kami semakin dikenal,” katanya.

Pemerintah desa memperkirakan total bantuan dan fasilitas yang diberikan Bank Indonesia untuk pengembangan desa wisata dan kelompok kopi mencapai miliaran rupiah.

Keberhasilan pengelolaan wisata dan ekonomi desa membawa Ketapanrame meraih berbagai penghargaan nasional, termasuk sebagai desa wisata terbaik dan BUMDes terbaik nasional kategori BUMDes bermanfaat.

Pemerintah desa menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai pemerintah, media, masyarakat, hingga dukungan Bank Indonesia dalam memperkuat ekonomi desa berbasis potensi lokal dan pemberdayaan masyarakat.

“Yang kami rasakan bukan hanya bantuan fasilitas, tetapi bagaimana Bank Indonesia mendampingi kami sampai benar-benar berkembang. Dulu produk kami hanya dikenal lokal, sekarang sudah mulai dikenal nasional hingga luar negeri. Harapan kami ke depan, masyarakat desa semakin sejahtera dan ekonomi desa terus tumbuh,” pungkasnya.(*)

Pos terkait