Seputarkotaku.com, Balikpapan – Ketua Perngurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Balikpapa, H Sugianto akhirnya angkat bicara terkait melonjaknya harga hunian kamar di Balikpapan selama pelaksanan Rakernas APEKSI Ke-XVII yang mencapai puluhan juta yang disalah satu platform penyedia jasa pemesanan kamar hotel secara online .
Dijumpai awak media, belum lama ini. Sugianto mengatakan hal itu merupaka strategi pemasaran pihak hotel dengan memasang harga kamar dengan jumlah tinggi.
Hal itu bertujuan agar di dalam platform penyedia jasa pemesanan kamar hotel secara online rating hotel yang bersangkutan tidak mengalami penurun. Sementara ketersediaan kamar sebenarnya kosong atau terisi penuh.
“Jadi itu strategi pemasaran hotel agar ratingnya tidak turun. Sementara ketersediaan kamar sudah habis terjual,” ucapnya.
Sugianto sendiri tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh rekan pengusaha hotel untuk melakukan hal seperti itu. Pasalnya, biar bagaimanapun akan berdampak dengan image kota Balikpapan.
“Kalau memang kamarnya kosong atau sudah terisi semua, sebaiknya jangan melakukan algoritma seperti yang dilakukan,” terangnya.
“Itu merupakan strategi pihak hotel yang tidak menginginkan ratingnya di aplikasi onine turun,” sambungnya.

Senada disampaikan, Wakil Ketua PHRI Kota Balikpapan Joko Budi Jaya menurutnya apa yang terjadi dengan melonjaknya harga kamar hotel disalah satu platform online sama dengan aplikasi online lainnya, seperti aplikasi ojek online.
Dimana, kata Joko, kalau pihak hotel menutup aplikasinya, maka algoritma akan terbaca, sehingga rating hotel tersebut akan turun atau kemungkinan besarnya bisa di suspend.
Joko menerangkan, apa yang dilakukan teman-teman pengusaha hotel tidak menutup aplikasinya, namun ketersediaan kamarnya tetap ditampilkan, padahal ketersediaan kamar di hotel tersebut sudah habis terjual.
“Karena banyaknya orang yang mencari hotel di aplikasi tersebut, maka, terbaca di aplikasi tersebut kebutuhannya tinggi. Sehingga secara otomatis di mesin pencarian aplikasi harganya akan melonjak drastis,” terangnya.
“Apa yang dilakukan teman-teman saat itu, ketersediaan kamar di aplikasi dicantumkan kosong (Nol) atau tidak tersedia, sementara harga kamar di aplikasi tidak di tutup. Sehingga harga kamar menjadi melonjak drastir berbarengan dengan semakin banyaknya orang yang mencari,” sambungnya.
“Misalkan harga kamar tersebut awalnya 1 juta, lalu saya mencari kamar hotel di hotel tersebut, kemudian ada orang lain yang mencari juga dengan hotel yang sama. Kalau semakin banyak yang mencari, maka otomatis harga kamar hotel tersebut akan terus naik,” tutup Djoko.(*)





