Kampung Organik Brenjonk Mojokerto, Dari Sawah Sempit Menembus Pasar Premium dan Jadi Model Ketahanan Pangan

Seputarkotaku.com, MOJOKERTO — Di balik jalan desa yang hanya selebar 2,5 meter di kawasan Trawas, Kabupaten Mojokerto, tersimpan sebuah kampung organik yang kini menjadi rujukan pengembangan pertanian berkelanjutan di Jawa Timur.

Kampung Organik Brenjonk, yang berada di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, berhasil membuktikan bahwa pertanian organik bukan hanya soal bercocok tanam, tetapi juga tentang membangun ketahanan pangan, ekonomi, hingga pariwisata berbasis masyarakat.

Ketua Komunitas Organik Brenjonk, Selamet menjelaskan bahwa pembatasan lebar jalan di kawasan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga lahan pertanian agar tidak terus tergerus pembangunan.

“Jalannya memang hanya 2,5 meter karena ada aturan supaya sawah tidak habis untuk pembangunan jalan. Kami setuju, karena ini bagian dari menjaga ketahanan pangan,” ujarnya.

Brenjonk sendiri bukan sekadar kelompok tani biasa. Komunitas ini membina petani organik dari berbagai desa di sekitar Trawas. Mereka dilatih, didampingi, hingga dibantu proses sertifikasi organik agar produknya mampu masuk pasar premium.

Saat ini, produk pertanian organik Brenjonk telah dipasarkan ke sejumlah jaringan ritel besar seperti Superindo, Ranch Market, Papaya hingga beberapa pasar premium lainnya di Jawa Timur.

Selamet mengatakan, langkah tersebut dilakukan agar petani kecil dan ibu rumah tangga di desa bisa mendapatkan akses pasar yang lebih baik.

“Tujuan kami sederhana, bagaimana petani kecil di kampung ini bisa masuk pasar premium. Alhamdulillah sekarang produk kami sudah masuk puluhan toko modern,” katanya.

Keberhasilan tersebut mengantarkan Brenjonk meraih berbagai penghargaan. Pada 2014 mereka mendapat penghargaan penanggulangan kemiskinan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Kemudian pada 2024, komunitas ini menerima penghargaan Kalpataru berkat kontribusinya dalam pengelolaan lingkungan berbasis pertanian organik.

Menurut Selamet, sistem pertanian organik yang diterapkan Brenjonk merupakan bentuk mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Seluruh proses pertanian dilakukan dengan konsep “zero waste” atau tanpa limbah.

Jerami sisa panen tidak dibakar, melainkan diolah kembali menjadi kompos. Limbah ternak pun dimanfaatkan menjadi pupuk melalui proses dekomposisi mikroba.

Brenjonk bahkan memiliki laboratorium mikroorganisme sendiri yang mampu memperbanyak sembilan jenis mikroba untuk mendukung kesuburan tanah.

“Mikroba itu menurut kami makhluk yang bekerja 24 jam tanpa harus digaji. Mereka membantu mengikat unsur hara dan menyuburkan tanah secara alami,” jelasnya.

Selama periode 2018 hingga 2023, Brenjonk mendapat pendampingan dari Bank Indonesia melalui berbagai program penguatan sumber daya manusia dan kelembagaan petani.

Dukungan tersebut digunakan untuk sekolah lapang pertanian organik, pembangunan sarana edukasi, pengemasan produk, hingga pengembangan teknologi pertanian.

Brenjonk juga mulai menerapkan konsep smart farming dengan penggunaan drone untuk penyemprotan lahan pertanian. Teknologi tersebut dinilai mampu memangkas biaya hingga 40 persen dibanding metode manual.

“Drone ini sangat membantu. Selain lebih efisien, juga membantu petani lansia karena pekerjaan di sawah itu berat,” ujar Selamet.

Tidak hanya padi organik putih, merah, dan hitam, Brenjonk juga mengembangkan sekitar 45 jenis komoditas lain mulai dari sayur daun, sayur impor seperti kailan dan rukola, hingga tanaman rempah-rempah. Produk-produk tersebut memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dibanding hasil pertanian konvensional.

“Bayam biasa paling Rp6 ribu per kilo, tapi kalau organik bisa sampai Rp25 ribu. Beras putih organik Rp17 ribu, merah Rp25 ribu, hitam Rp30 ribu per kilo,” ungkapnya.

Menariknya, kawasan pertanian organik tersebut kini juga berkembang menjadi destinasi wisata edukasi dan kuliner sawah. Dalam sebulan, kawasan Brenjonk mampu menarik sekitar 8.500 pengunjung dengan perputaran ekonomi kuliner mencapai Rp300 juta per bulan.

“Dulu tidak ada orang luar datang ke sini. Sekarang orang datang untuk ngopi, makan, belajar pertanian organik, sampai wisata sawah. Ini menjadi berkah bagi warga kampung,” katanya.

Selamet berharap model pertanian terintegrasi seperti Brenjonk dapat direplikasi di berbagai daerah lain, termasuk di Kalimantan. Menurutnya, konsep pertanian organik yang memadukan pertanian, peternakan, pengolahan hasil hingga wisata terbukti mampu membuat petani lebih mandiri menghadapi berbagai krisis.

“Ketika dolar naik atau ada krisis, kami tidak terlalu terdampak karena pupuknya ada di sekitar kami sendiri. Sistem organik ini membuat petani bisa bertahan di situasi apa pun,” tutup Selamet.(*)

Pos terkait