Seputarkotaku.com, BALIKPAPAN – Lonjakan kasus suspek campak di Kota Balikpapan menjadi perhatian serius. Dalam beberapa waktu terakhir, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat sedikitnya 200 kasus suspek, memicu langkah cepat pemerintah untuk memperkuat upaya pencegahan, terutama melalui percepatan imunisasi anak.
Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan, Dra. Alwiati, mengungkapkan bahwa angka tersebut masih bersifat suspek dan belum seluruhnya terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Meski begitu, potensi penyebaran tetap diantisipasi dengan meningkatkan kewaspadaan di tengah masyarakat.
“Walaupun jumlahnya cukup tinggi, Balikpapan belum masuk kategori daerah endemis. Karena itu, kita belum memerlukan langkah outbreak response immunization dari pemerintah pusat. Namun, kewaspadaan tetap kami tingkatkan,” ujarnya, Minggu (29/3/2026).
Menurutnya, campak merupakan penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah secara efektif melalui imunisasi. Anak-anak yang sudah mendapatkan vaksin memang masih berisiko terinfeksi, namun gejalanya cenderung lebih ringan dibandingkan mereka yang belum mendapatkan perlindungan vaksin sama sekali.
Dinkes pun kini memfokuskan upaya pada kelompok rentan, terutama anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Program imunisasi kejar terus digencarkan agar tidak ada anak yang terlewat.
“Kami fokus mengejar anak-anak yang belum imunisasi. Ini penting untuk membentuk kekebalan kelompok agar penularan bisa ditekan,” jelas Alwiati.
Selain vaksinasi, edukasi kepada masyarakat juga diperkuat. Dinkes menyoroti kebiasaan yang kerap dianggap sepele namun berisiko, seperti menyentuh atau mencium bayi tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
“Sering kali orang dewasa menjenguk bayi, langsung menyentuh atau mencium tanpa mencuci tangan. Padahal virus bisa saja terbawa. Ini yang kami ingatkan kepada masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, masyarakat juga diimbau lebih peka terhadap gejala awal campak, seperti demam dan munculnya ruam pada kulit. Jika mengalami gejala tersebut, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Pasien yang terindikasi terpapar dianjurkan menjalani isolasi mandiri selama kurang lebih dua minggu guna mencegah penularan lebih luas, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
“Pasien harus membatasi kontak dengan orang lain. Ini langkah penting agar tidak terjadi penularan lanjutan,” tegasnya.
Sebagai langkah pengendalian, Dinkes Balikpapan telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan kepada seluruh fasilitas kesehatan. Melalui sinergi antara pemerintah dan masyarakat, penyebaran penyakit ini diharapkan dapat segera ditekan.
“Kami berharap masyarakat lebih peduli terhadap imunisasi dan menjaga kebersihan, agar kasus campak tidak terus bertambah dan bisa segera dikendalikan,” tutup Alwiati.(*)





