Seputarkotaku.com, BALIKPAPAN – Gejolak harga cabai yang terjadi menjelang hingga usai Lebaran 2026 dipicu terganggunya rantai pasokan akibat cuaca ekstrem di daerah sentra produksi.
Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Balikpapan mencatat, lonjakan harga tidak hanya dipengaruhi tingginya permintaan musiman, tetapi juga penurunan produksi yang berdampak langsung pada distribusi ke pasar.
Kepala Disdag Balikpapan, Haemusri Umar mengungkapkan pihaknya melakukan pemantauan harga secara intensif untuk mengantisipasi lonjakan yang lebih tinggi.
“Pemantauan kami lakukan hampir setiap hari untuk memastikan pergerakan harga tetap terkontrol,” ujarnya, Minggu (29/3/2026).
Menurutnya, curah hujan tinggi dalam beberapa waktu terakhir menjadi faktor utama terganggunya produksi cabai. Banyak petani di daerah penghasil mengalami gagal panen, sehingga pasokan ke Balikpapan ikut tersendat.
“Cuaca ekstrem memicu gagal panen, menurunkan produksi, dan pada akhirnya menghambat distribusi dari daerah asal ke pasar,” jelas Haemusri.
Di sisi lain, kebutuhan masyarakat justru meningkat tajam menjelang Ramadan hingga Lebaran. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan inilah yang mendorong harga cabai melonjak dalam waktu singkat.
“Permintaan meningkat saat hari besar keagamaan, sementara pasokan terbatas karena belum masuk masa panen. Kondisi ini yang membuat harga cepat naik,” tambahnya.
Berdasarkan data Survei Pemantauan Harga (SPH) Minggu IV Maret 2026 dari Bank Indonesia, inflasi tercatat sebesar 0,33 persen (month to month), melanjutkan tren bulan Februari yang mencapai 0,75 persen.
Cabai menjadi salah satu komoditas utama penyumbang inflasi, bersama bawang merah, cabai rawit, ikan bandeng, dan minyak goreng. Sementara itu, beberapa komoditas lain seperti daging ayam ras, sawi hijau, wortel, emas perhiasan, dan beras justru mengalami penurunan harga.
Disdag menilai, stabilitas harga ke depan sangat bergantung pada pemulihan produksi di daerah sentra serta kelancaran distribusi. Selama dua faktor tersebut belum sepenuhnya pulih, potensi fluktuasi harga masih akan terus terjadi.
“Selama produksi belum kembali normal dan distribusi belum sepenuhnya lancar, harga cabai masih berpotensi berfluktuasi. Ini yang terus kami waspadai,” tutup Haemusri.(*)





