Soroti Unsur Budaya dan Edukasi, Film “Dayak” Angkat Sejarah ke Layar Lebar

Penanggung Jawab Produksi Abriantinus, Ketua Tim Produksi Thoesang TT Asang, dan Ketua II Lawadi Nusah saat merilis rencana panayangan Film Dayak

Seputarkotaku.com, BALIKPAPAN – Produksi film bertema Dayak Borneo mulai digarap dengan menitikberatkan pada penguatan nilai budaya dan edukasi sejarah masyarakat Dayak kepada publik luas.

Ketua Tim Produksi, Thoesang TT Asang, menyampaikan film berjudul “Dayak” dirancang tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran budaya.

Meski dikemas secara menarik dengan unsur laga, romantisme, mistis, dan humor, nilai historis tetap menjadi fondasi utama.

“Film ini akan menghadirkan adegan laga, romantisme seperti cinta terlarang, hingga unsur mistis seperti mandau terbang dan ilmu gaib suku Dayak,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Film ini mengangkat kehidupan masyarakat Suku Dayak pada masa sebelum penjajahan, dengan fokus pada dinamika konflik antarsuku yang berujung pada kesepakatan damai dalam peristiwa Perjanjian Tumbang Anoi.

Selain itu, interaksi masyarakat Dayak dengan kelompok luar yang datang ke Kalimantan juga menjadi bagian penting dalam alur cerita.

Berbagai tradisi turut ditampilkan, seperti ngayau, lengkap dengan penggunaan properti autentik seperti rumah betang, mandau, sumpit, dan perisai khas Dayak.

Thoesang menegaskan, aspek sejarah dihadirkan secara mendalam, termasuk penokohan panglima dan gambaran kehidupan sosial masyarakat Dayak pada masa tersebut.

Meski dikemas dalam bentuk fiksi dan bergaya kontemporer, film ini tetap berpijak pada nilai budaya dan sejarah yang kuat.

Penggunaan bahasa asli Dayak dalam dialog juga menjadi bagian dari upaya menjaga keaslian, dengan tambahan bahasa Indonesia untuk menjangkau penonton yang lebih luas.

Di sisi produksi, tim membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat melalui audisi dan casting yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Juni hingga 8 Agustus 2026.

Pendaftaran telah dibuka sejak 1 April hingga 1 Juni 2026 dan menjangkau lima provinsi

Penanggung Jawab Produksi, Abriantinus, menambahkan bahwa proyek ini telah mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga kementerian.

Ia menegaskan, film ini merupakan inisiatif masyarakat Dayak untuk memperkenalkan warisan sejarah dan budaya kepada masyarakat luas.

“Sekaligus menjadi media edukasi dan promosi di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.(*)

Pos terkait