Seputarkotaku.com, BALIKPAPAN — Penjagaan ketat dilakukan kepolisian dari Polresta Balikpapan saat rekonstruksi kasus pembunuhan penjaga toko kelontong yang menewaskan Valentino Prawira Wardhana (18) digelar, Jumat (13/2/2026).
Rekonstruksi berlangsung di tempat kejadian perkara (TKP), Jalan MT Haryono, RT 08, Kelurahan Gunung Samarinda Baru, Balikpapan Utara. Dalam proses tersebut, tersangka berinisial M (61) memperagakan total 28 adegan di hadapan penyidik, jaksa, serta keluarga korban.
Pantauan di lokasi, suasana mencekam terasa sejak tersangka dibawa ke TKP. Warga yang memadati area rekonstruksi bahkan sempat melontarkan teriakan keras ke arah pelaku. Aparat kepolisian pun bersiaga penuh untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kerumunan massa juga sempat membuat arus lalu lintas di sekitar lokasi tersendat. Jalanan menjadi padat karena banyaknya warga yang ingin menyaksikan langsung jalannya rekonstruksi kasus tersebut.
Adegan Bertambah dari Rencana Awal
Jaksa Fungsional Kejaksaan Negeri Balikpapan, Husni, mengungkapkan bahwa jumlah adegan dalam rekonstruksi awalnya hanya direncanakan sebanyak 20.
“Nah, sebenarnya ada 20 adegan sesuai yang disampaikan penyidik. Namun dalam perjalanannya terdapat penambahan adegan,” ujarnya.
Menurut Husni, penambahan adegan terjadi karena adanya perkembangan pengakuan dari tersangka. Pada awal pemeriksaan, pelaku mengaku hanya melakukan tiga kali penusukan terhadap korban.
Namun fakta medis berbicara lain. Hasil visum menunjukkan luka tusuk yang jauh lebih banyak.
“Jadi, berdasarkan hasil visum ditemukan lebih dari 7 sampai 8 kali penusukan,” jelas Husni.
Luka-luka tersebut sebagian besar berada di bagian perut dan dada korban. Bahkan ditemukan pula satu luka di bagian kepala.
Poin Krusial di Adegan Penusukan Awal
Husni menyebut, poin utama dalam rekonstruksi berada pada adegan penusukan pertama dan kedua, yang terjadi sekitar adegan ke-8 dan ke-9.
“Poin utama berada pada adegan saat penusukan pertama atau kedua, sekitar adegan ke-8 dan ke-9,” ungkapnya.
Selain memperagakan aksi penusukan, rekonstruksi juga mengungkap cara tersangka menyembunyikan barang bukti.
Adegan penyembunyian tersebut diperagakan pada adegan ke-22.
“Penyembunyian barang bukti terjadi sekitar adegan ke-22, yakni disembunyikan di payung,” tambah Husni.
Tersangka Sempat Tidak Kooperatif
Lebih lanjut, Husni menyebut tersangka awalnya tidak sepenuhnya kooperatif, terutama dalam mengakui jumlah tusukan yang dilakukan.
Namun setelah dilakukan pencocokan dengan hasil visum, tersangka akhirnya mengakui perbuatannya.
“Awalnya tidak kooperatif terkait pengakuan tiga tusukan itu. Namun setelah dicocokkan dengan hasil visum, tersangka akhirnya mengakui,” tegasnya.
Rekonstruksi ini menjadi bagian penting untuk melengkapi berkas perkara sebelum kasus berlanjut ke tahap persidangan.
Motif Pembunuhan Dipicu Rasa Tersinggung
Kasus pembunuhan ini terjadi pada Senin (26/1/2026). Polisi mengungkap motif pembunuhan dilatarbelakangi rasa sakit hati pelaku terhadap ucapan korban.
Kasat Reskrim Polresta Balikpapan, AKP Zeska Julian Taruna, menjelaskan bahwa sebelum kejadian, pelaku beberapa kali mendatangi toko tempat korban bekerja untuk membeli rokok.
Pelaku merasa harga rokok di toko tersebut lebih mahal dibanding tempat ia biasa berjualan.
“Jadi korban menanyakan harga rokok, lalu pelaku menyampaikan bahwa harganya lebih mahal dibandingkan tempat dia berjualan,” ujar Zeska dalam konferensi pers, Jumat (30/1/2026).
Korban menanggapi dengan kalimat yang dianggap sederhana, namun diduga memicu emosi pelaku.
Korban menyampaikan bahwa pelaku dipersilakan membeli jika ingin, dan jika tidak pun tidak menjadi masalah.
Ucapan itulah yang membuat pelaku tersinggung.
Pelaku Kembali dengan Pisau
Pada hari kejadian sekitar pukul 11.30 Wita, tersangka kembali ke warung dengan alasan membeli pengharum pakaian. Namun harga barang itu kembali dianggap terlalu mahal.
Saat berada di kasir, pelaku berpura-pura hendak mengambil uang ke rumah.
“Namun ternyata pelaku pulang bukan untuk mengambil uang, melainkan mengambil pisau,” ungkap Zeska.
Pelaku kemudian kembali ke toko, sempat mengajak korban berbincang, lalu memegang tangan korban dan menikam perutnya menggunakan pisau dapur.
“Berdasarkan rekaman CCTV, korban sempat melarikan diri ke bagian belakang toko. Namun pelaku mengejar dan kembali menikam korban berkali-kali hingga akhirnya meninggal dunia di lokasi,” pungkas Zeska. (*)





